Tuesday
15/10/2019

BBRI: Hingga kuartal III 2019 telah menyalurkan fasilitas kredit subsidi pemerintah itu sebesar Rp 77,26 triliun. Realisasi penyaluran itu telah mencapai 88,8% dari kuota KUR yang didapat BRI sepanjang 2019 ini yakni sebesar Rp 86,97 triliun. Penyaluran selama Sembilan bulan pertama itu diberikan kepada 3,7 juta lebih debitur.

SRIL: Menerbitkan obligasi dengan denominasi dolar dengan nilai pokok US$ 225 juta dengan bunga 7,25% yang akan jatuh tempo pada 2025 mendatang. Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/10) President Director Iwan Setiawan menjelaskan rencana penerbitan surat utang baru ini dijamin oleh PT Sinar Pantja Dijaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha Mandirijaya selaku entitas perusahaan. “SRIL telah menetapkan harga atas suatu penawaran surat utang senior dengan jumlah pokok keseluruhan sebesar US$ 225 juta dan bunga 7,25% yang akan jatuh tempo pada 2025,” jelasnya dalam keterangan tertulis Senin (14/10). Pada 9 Oktober 2019, SRIL telah mendapat peringkat Ba3 dengan prospek stabil oleh Moody’s dan BB- stable oleh Fitch and Ratings untuk meluncurkan obligasi ini. Menurut Iwan, penerimaan global yang luar biasa atas obligasi ini menjadi bukti kisah terpadu Sritex dan rekam jejak yang kuat di industri tekstil manufaktur.

HOKI: Pembangunan pabrik beras di Ogan Ilir Sumatra Selatan telah mencapai 30%. Proses pembangunan telah masuk tahap pendirian rangka bangunan. Emiten bersandi saham HOKI ini mengalokasikan investasi senilai Rp100 miliar untuk pabrik tersebut. Hingga September 2019, perseroan telah menyerap 20%-30% dari alokasi investasi.

ADHI: Telah menerima pembayaran keempat pekerjaan proyek LRT Jakarta Bogor Depok Bekasi (Jabodebek) Tahap I senilai Rp1,4 triliun (sudah termasuk pajak). Realisasi pembayaran tersebut diterima pada Rabu (9/10/2019) dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku pengelola proyek LRT Jabodebek. Pembayaran ini dilakukan berdasarkan progres pekerjaan LRT Jabodebek Tahap I dari Oktober 2018 hingga Maret 2019. Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi mengatakan dengan pembayaran keempat tersebut total yang diterima dari proyek LRT senilai Rp8,3 triliun.

BBNI: Hingga Agustus 2019 pertumbuhan aset BNI masih sebesar 11,5% secara year on year (yoy). Realisasi tersebut menurut Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta berada di atas rata-rata industri yang sebesar 8,7% secara yoy maupun bank pesaing BNI di BUKU IV. Pihaknya menjelaskan, faktor pendorong pertumbuhan aset tersebut tak lain dari dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang dapat tumbuh 9,5% yoy. Masih cukup besarnya kenaikan DPK di tengah perlambatan industri tersebut, diakui Herry membantu pertumbuhan kredit BNI sebesar 19,7% yoy.

Monday
14/10/2019

INCO: Menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 197 juta tahun ini. Hingga semester I 2019, emiten telah merealisasikan penggunaan capex sebesar US$ 76,8 juta atau baru 38,98% dari total capex sepanjang tahun.

 

ASRI: Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings menurunkan peringkat utang PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dari B menjadi B- dengan prospek negatif. Penurunan peringkat juga berlaku untuk obligasi senior tanpa jaminan milik Alam Sutera. Menurut S&P Global Ratings, penurunan peringkat tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa penjualan properti Alam Sutera akan rendah sehingga kapasitas perusahaan untuk membayar bunga akan terkompresi selama 12 bulan ke depan. Alam Sutera membukukan penjualan pemasaran alias marketing sales sebesar Rp 1,4 triliun sepanjang semester I-2019. Jumlah tersebut hanya sepertiga dari proyeksi setahun S&P Global Ratings.

 

SMRA: Tahun ini membidik marketing sales sebesar Rp 4 triliun.Michael Yong, Investor Relation Summarecon Agung menyebutkan saat ini progres menuju target pra penjualan telah mencapai 84%. “Marketing sales hingga September Rp 3,4 triliun,” ujarnya. Melihat progres tersebut pihaknya optimis dalam tempo tiga bulan menjelang tutup tahun target tersebut dapat tercapai. “Tinggal perlu penjualan sejumlah Rp 600 miliar sampai akhir tahun, jadi target akan tercapai,” tegasnya.

 

BMRI: PT Bank Mandiri Tbk telah menyalurkan KUR sebesar 17,45 triliun sepanjang Sembilan bulan pertama tahun ini dan diberikan kepada 222.825 debitur . Capaian itu setara 69,8% dari jatah KUR yang didapat perseroan untuk 2019 ini. Penyaluran KUR Bank Mandiri hingga kuartal III tersebut meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Walaupun realisasi penyaluran sudah hampir 70% dari kuota, namun baru 50,25% dari realisasi itu diberikan kepada sektor produksi.

Friday
11/10/2019

TPIA: Bakal melunasi obligasi senilai Rp361,4 miliar dengan kas internal. Investor Relation PT Barito Pacific Tbk. Allan Alcazar mengatakan anak usahanya itu mengandalkan kas internal untuk pelunasan obligasi jatuh tempo. Chandra Asri merupakan entitas anak PT Barito Pacific Tbk. dengan kepemilikan saham 41,51%. Sebagai informasi, Chandra Asri memiliki obligasi jatuh tempo senilai Rp361,4 miliar pada 22 Desember 2019.

 

UNTR: Melalui anak usaha yang bergerak di bidang jasa penambangan batubara, yakni PT Pamapersada Nusantara (Pama) sudah merealisasikan volume overburden removal (OB) atau pengupasa tanah sebesar 665,3 juta bank cubic meter (BCM) dari periode Januari hingga Agustus 2019. Nilai tersebut meningkat sebesar 4,86% dari periode yang sama tahun lalu 624,9 juta BCM.Sementara itu, kinerja penjualan alat berat dari Januari hingga Agustus sebesar 2.359 unit turun dari tahun sebelumnya 3.221 unit. Tahun ini United Tractors  juga menurunkan target penjualan menjadi 3.600 unit.

 

 

 

CTRA: Marketing sales CTRA hingga kini sudah terkumpul sekitar Rp 4,8 triliun. Ini setelah pada September lalu CTRA mencatat marketing sales Rp 4,1 triliun. Tahun ini, CTRA menargetkan perolehan marketing sales sekitar Rp 6 triliun. Artinya, realisasi marketing sales perusahaan telah mencapai sekitar 80% dari target.

 

 WSBP: Akan menerbitkan dan menawarkan obligasi dengan nilai maksimal Rp 1,5 triliun. Obligasi ini merupakan rangkai Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2019. Pada tahap pertama, WSBP telah menerbitkan sebanyak Rp 500 miliar. Adapun, pada penerbitan tahap II tahun 2019 ini, nilai pokok obligasi tercatat sebesar Rp 1,32 triliun. Obligasi ini memiliki tingkat bunga 9,75% dan jatuh tempo pada 30 Oktober 2022. Sedangkan sisa obligasi Rp 175,80 miliar akan dijamin secara kesanggupan terbaik (best effort).

 

MDLN: Berhasil mencapai marketing sales lahan industri Rp 900 miliar untuk kawasan industri Cikande, Serang, Banten seluas 67 hektare. “Dari target full year tahun ini Rp 1,4 triliun,” ujar Investor Relation Assistant Manager MDLN Eliza Saliman, Kamis (10/10). Perolehan tersebut setara dengan 64,28% dari total target tahun ini. Angka tersebut lebih besar dari pada perolehan keseluruhan marketing sales yang baru mencapai sekitar 40% di paruh pertama tahun ini dari total target Rp 4,38 triliun.

Thursday
10/10/2019

SRIL: Bakal menerbitkan surat utang baru dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS). Emiten tekstil ini akan menerbitkan utang dengan nilai pokok sebanyak-banyaknya US$ 225 juta. lwan Kurniawan Lukminto, Wakil Direktur Utama SRIL menyampaikan surat utang ini akan dijamin anak usaha seperti PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, dan PT Primayudha. Nantinya mereka akan menawarkan surat utang kepada investor luar negeri.

 

TRIS: Target PT Trisula International Tbk (TRIS) mengakuisisi PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) bakal berbuah kenaikan revenue perusahaan tersebut. Santoso Widjojo, Direktur Utama TRIS menyebutkan jika akuisisi berlangsung secepatnya paling tidak di tahun 2020 pendapatan bersih perseroan mampu mencapai angka Rp 1,5 triliun.Manajemen memproyeksikan kontribusi BELL bagi penjualan bersih perusahaan tahun ini berada di kisaran 36% per tahunnya. “Dengan adanya sinergi ini kami harapkan tercipta efisiensi dan tentunya bakal berdampak bagi penjualan TRIS,” sebut Santoso usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) perseroan, Rabu (9/10).

 

ARTO: Saham PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) masih dihentikan sementara perdagangannya (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk keempat kali sejak Selasa hingga Kamis ini (10/10/2019) setelah saham bank tersebut meroket di atas 1.000% sejak awal tahun. Kenaikan saham Bank Artos didorong oleh kabar bank ini akan bertransformasi menjadi Gojek Bank atau GoBank setelah 51% saham perusahaan dicaplok dua investor strategis yakni PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) milik bankir Jerry NG dan Wealth Track Technology (WTT) Limited milik Patrick Walujo, investor Gojek lewat Northstar. Selain suspensi, BEI juga meminta manajemen bank kategori BUKU (bank umum kegiatan usaha) I atau bank dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun ini untuk menggelar paparan publik (public expose/PE) insidentil.

Wednesday
09/10/2019

APLN: Berencana melakukan penawaran umum terbatas I dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue. Emiten berkode saham APLN tersebut akan menerbitkan saham sebanyak-banyaknya 4 miliar saham yang bernominal Rp 100. Kendati begitu, jumlah saham yang akan diterbitkan masih bisa berubah. Kepastian tersebut akan diumumkan oleh APLN bersamaan dengan iklan pemanggilan rapat pada Senin (14/10) mendatang.

 

SCBD: Mengantongi laba Rp 20,54 miliar pada paruh pertama tahun ini. Jumlah tersebut merosot 49,31% dari perolehan di semester I-2018 yang saat itu laba tercatat sebesar Rp 40,53 miliar. Penurunan laba tersebut disebabkan oleh turunnya pendapatan dan naiknya beban usaha. Pendapatan perusahaan yang dikenal dengan nama SCBD tersebut tercatat sebesar Rp 496,22 miliar. Jumlah tersebut mengalami penurunan 4,86% bila dibandingkan dengan semester I-2018 (yoy) yang berhasil meraih Rp 517,36 miliar.

 

TGRA: Mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 550 miliar. Per Juni 2019, emiten yang bergerak di bisnis pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) ini telah merealisasikan Rp 287 miliar dari total capex. Sekretaris Perusahaan TGRA Christin Soewito menjelaskan, capex tersebut digunakan untuk konstruksi pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

 

TBIG: Akan melakukan dua aksi korporasi sekaligus. Pertama, perusahaan ini akan memecah nominal saham alias stock split. Kedua, TBIG juga akan menerbitkan surat utang berdenominasi mata uang asing. Helmy Yusman Santoso, Sekretaris Perusahaan dan Direktur Keuangan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dalam keterbukaan informasi di BEI pada Selasa (8/10) menjelaskan, dua aksi korporasi ini akan dimintakan izin kepada pemegang saham pada 30 Oktober. “Kami meminta izin untuk memecah nominal saham 1:5,” kata dia.

Tuesday
08/10/2019

WSBP: Membukukan nilai kontrak baru senilai Rp3,69 triliun hingga akhir kuartal III/2019. Dengan realisasi ini, perseroan bakal merevisi target akhir tahun yang senilai Rp10,3 triliun. Perolehan kontrak baru emiten dengan kode saham WSBP ini berasal dari proyek eksternal yang berkontribusi sebesar 44% dan sisanya dari internal. Proyek-proyek eksternal yang didapatkan perseroan antara lain Proyek Jalan Tol Krian-Legundi-Bunder-Manyar Seksi 2 dan 3, Apartemen Tokyo Riverside, Tol Pekanbaru-Dumai Seksi 6C, Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu Ramp on & off, Bandara Kulonprogo, Bendungan Leuwikeris, PLTGU Tambak Lorok, dan lainnya.

 

SLIS: Menargetkan penjualannya tahun ini bisa mencapai Rp 408 miliar. Dibandingkan 2018, jumlah ini naik sekitar 38,5% dari sebelumnya Rp 294,68 miliar. Hingga April 2019, perusahaan ini telah merealisasikan penjualan Rp 100,2 miliar atau naik 19,12% secara year on year (yoy), dari sebelumnya Rp 84,12 miliar.

 

BUMI: Akan membayar utang Tranche A sebesar US$31,8 juta pada 19 Oktober 2019. Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan perseroan telah mengantongi uang kas sejumlah US$40,4 juta untuk membayar utang tersebut.

 

WSKT: PT Waskita Karya Tbk (WSKT) pada bulan Oktober 2019 ini akan menerima pembayaran dari 4 (empat) proyek turnkey yang telah dikerjakan oleh Waskita senilai kurang lebih Rp2,52 triliun. Keempat proyek dimaksud adalah Proyek LRT Sumatera Selatan senilai Rp500 miliar, Proyek Tol Kunciran . Parigi Rp700 miliar, Proyek Tol Cileunyi . Sumedang – Dawuan Rp327 miliar, dan Proyek Tol Cinere . Serpong Rp1 triliun. “Khusus tol Cinere . Serpong proses pemenuhan persyaratan administrasinya masih berlangsung dan diharapkan pencairannya dapat dilaksanakan pada bulan Oktober ini,” ungkap Director of Finance, Haris Gunawan dalam keterangannya.

 

TINS: Mencatatkan kenaikan produksi sepanjang semester pertama 2019. Merujuk pada keterbukaan informasi, Senin (7/10), produksi logam timah TINS pada separuh pertama 2019 mencapai 37.717 metrik ton. Angka ini melesat naik dibanding realisasi produksi semester pertama tahun lalu yang hanya berkisar 12.366 metrik ton.

Monday
07/10/2019

SMRA: Memiliki surat utang yang bakal jatuh tempo dalam waktu dekat. Emiten properti ini mengaku sudah memiliki skema untuk melunasi pokok surat utang tersebut. “Untuk pelunasannya kami akan menggunakan kas internal,” ujar Jemmy Kusnadi, Corporate Secretary PT Summarecon Agung Tbk kepada Kontan.co.id, Jumat (4/10). Surat utang yang bakal dilunasi itu adalah obligasi berkelanjutan I tahap II senilai Rp 800 miliar dan sukuk ijarah I tahap kedua sebesar Rp 300 miliar. Keduanya diterbitkan pada 2014 lalu dan jatuh tempo pada 10 Oktober mendatang.

TINS: Mengurangi volume ekspor timah ke pasar global. Langkah ini merupakan upaya untuk mengangkat harga timah dunia. Sebelumnya, dalam forum Asia Tin Week 2019 di China, Direktur TINS Riza Pahlevi menyebut pihaknya akan melakukan kebijakan efektifitas dan efisiensi pada operating cost, terutama menahan volume ekspor. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelesuan harga timah yang terjadi saat ini. Corporate Secretary TINS Abdullah Umar mengatakan, pengurangan ekspor ini sudah dilakukan TINS sejak Juli 2019.

IPTV: Berencana untuk membeli saham perusahaan kompetitornya yang bergerak di bisnis layanan televisi berbasis internet (IPTV). Emiten itu menargetkan mengakuisisi salah satu perusahaan broadband di Indonesia. Direktur Utama MNC Vision Networks Tbk Ade Tjendra menyatakan pihak manajemen telah memulai diskusi dengan perusahaan kompetitor tersebut, termasuk pemegang saham utama. “Aksi korporasi ini dilakukan untuk menciptakan sinergi dalam konten, iklan, jaringan, bandwidth, dan lain-lain,” ujar Ade dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan rilis perusahaan, Jumat (4/10).

BUMI: Menargetkan peningkatan penjualan batubara sebesar 10% atau sebanyak 90 juta metrik ton (mt) di tahun 2019. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava. “Pada tahun lalu Bumi menjual 80,3 juta mt, jadi ditahun 2019 bisa lebih tinggi sekitar 10%,” sebut Dileep, Minggu (6/10). Optimisme ini, menurut Dileep didukung oleh raihan volume produksi di kuartal tiga yang diproyeksikan akan setara atau bahkan melampaui periode yang sama ditahun sebelumnya. Meski belum bisa menyampaikan gambaran kinerja perseroan di kuartal III, Dileep menjelaskan, perseroan telah menyerap belanja modal yang ada.

DMAS: Berhasil membukukan marketing sales Rp1,6 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini yang ditopang oleh tingginya penjualan lahan industri. Capaian tersebut telah melampaui target perseroan tahun ini. Tondy Suwanto, Direktur Puradelta Lestari, mengatakan penjualan lahan industri masih tetap tinggi hingga akhir kuartal III 2018. Khusus di triwulan ketiga, perseroan telah mencatatkan penjualan lahan di kawasan industri GIIC Deltamas seluas 17,2 hektare (ha). “Hal ini menambah jumlah luasan lahan industri yang berhasil dijual Perseroan hingga saat ini menjadi 42,5 ha. Pada semester I sudah jual lahan industri 25,3 ha,” kata Tondy dalam keterangan resminya, Minggu (6/10). Selain penjualan lahan industri, DMAS juga menjual 12,2 hektar lahan komersial pada periode Januari hingga September 2019.

Friday
04/10/2019

BULL: Mencatatkan peningkatan laba di semester I 2019 menjadi US$ 8,52 juta atau naik 31,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 6,50 juta. Buana Lintas Lautan (BULL) juga membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 8,41% menjadi US$ 48,77 juta pada semester I-2019, dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 44,99 juta.

 

PTPP: Mendapat kontrak dengan skema kerjasama untuk membangun tiga gedung BUMN Center. Ini bentuk kerjasama PTPP dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Danareksa dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Nantinya di tiap gedung PTPP akan memegang share sebesar 95%. Sedangkan sisanya dimiliki oleh Danareksa, GIAA dan TLKM.

 

PSSI: Akan melakukan serah terima kapal baru di 31 Oktober 2019. Rencana tersebut telah disepakati sejak 23 Mei dengan pihak penjual, yakni Convivial Navigation Co. Pte. Ltd, perusahaan asal Singapura. Dalam aksi korporasi ini, Pelita Samudera akan mengonversi pembayaran kapal dengan saham baru. Nilai pembelian satu buah kapal kargo curah atau motor vessel (MV) seharga US$ 7,52 juta. Jika menggunakan asumsi kurs Rp 14.141 per dollar AS, maka nilai pembelian kapal kelas handysize ini sekitar Rp 106,34 miliar.

 

APLN: Merealisasikan percepatan pelunasan atas Obligasi Berkelanjutan I Agung Podomoro Land Tahap III Tahun 2014 dan Obligasi Berkelanjutan I Agung Podomoro Land Tahap IV Tahun 2015. Pada hari Kamis (3/10), Agung Podomoro Land telah membayar pelunasan obligasi yang dipercepat kepada pemegang obligasi senilai Rp 566,88 miliar.

Thursday
03/10/2019

AUTO: Akan membagi dividen interim tahun buku 2019. Emiten ini akan mengucurkan dividen interim Rp 19 per saham. Berdasarkan pengumuman Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Rabu (2/10) jadwal Cum dividen interim di pasar reguler dan negosiasi: 8 Oktober 2019

ABMM: Sepanjang periode Januari hingga September 2019 PT ABM Investama Tbk memproduksi batubara sebanyak 8,5 juta ton batubara. Nilai ini meningkat 19,72% dari realisasi produksi pada periode yang sama tahun sebelumnya 7,1 juta ton batubara. Emiten ini membidik produksi batubara sebanyak 13 juta ton batubara pada tahun ini atau 23% lebih banyak dari jumlah produksi tahun lalu.

CASS: Anak perusahaan PT Cardig Aero Services Tbk (CASS) yakni PT Jasa Angkasa Semesta Tbk akan membagikan dividen interim tahun buku 2019. Perusahaan yang bergerak pada bidang penyediaan jasa ground dan cargo handling ini akan membagikan dividen Rp 119 per saham. “Jasa Angkasa Semesta memutuskan penggunaan laba bersih sebesar Rp 61,38 miliar untuk pembagian dividen interim keempat tahun 2019,” ungkap Jasa Angkasa dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (2/10). Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen adalah pada 8 Oktober.

META: Bersiap menaikkan tarif jalan tolnya yang berada di Makassar. Jalan tol yang dikelola melalui PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) dan PT Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) di Makassar tarifnya akan meningkat mengikuti inflasi di sana sekitar 7%.

BLTZ: Akan membuka empat sampai lima gerai lagi di akhir tahun 2019. Hingga saat ini, CGV telah memiliki 63 bioskop di Indonesia. Head of Marketing CGV Manael Sudarman mengatakan, pertumbuhan bisnis film sejak 2015 selalu positif yang membuat CGV lebih ekspansif. “Setiap tahun film lokal pertumbuhan dua digit, karenanya sampai akhir tahun mau tambah empat sampai lima lagi,” katanya pada Rabu (2/10). Baru-baru ini, CGV telah meresmikan groundbreaking bioskop ke 63nya di lahan milik PT Ciputra Residence, Citra Maja. Groundbreaking itu sekaligus menjadi bioskop CGV ke lima di Provinsi Banten. Nilai investasi untuk gedungnya saja diperkirakan Rp 15 miliar – Rp 20 miliar. Nantinya CGV Citra Maja bakal dilengkapi empat layar lebar dengan kapasitas 620 bangku. “Satu layar Rp 4 sampai Rp 6 miliar, ” tambah Manael. Jika ditotal maka diperkirakan nilai investasinya sebesar Rp 44 miliar.

Wednesday
02/10/2019

ANTM: Mencatat kenaikan pendapatan 22,10% dari periode sebelumnya menjadi Rp 14,42 triliun. Pada periode 2018, penjualan ANTM hanya tercatat Rp 11,81 triliun. Meski pendapatan naik double digit, laba bersih ANTM hanya naik 6,1% menjadi Rp 365,75 miliar. Pada semester pertama tahun lalu, Antam meraup laba bersih Rp 344,45 miliar.

 

HEXA: Akan membagi dividen dengan tahun buku 2018. Emiten dengan kode saham HEXA ini membagikan dividen dengan total US$ 30,08 juta. HEXA akan membagikan dividen US$ 0,0358 per saham dengan catatan jika sudah ada kepastian jumlah saham yang akan dibagi. Tanggal Cum Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi : 07 Oktober 2019

 

APLN: PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah menaikkan peringkat utang PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dan Obligasi Berkelanjutan I/2014-2015 menjadi “idBBB+” dari “idBBB”.  Pefindo menaikkan peringkat tersebut setelah APL memperoleh persetujuan dana untuk pembayaran dan percepatan pelunasan beberapa utang perusahaan. Pefindo menilai risiko pembiayaan kembali dan likuiditas APL terkait pinjaman sindikasi sebesar Rp 1,2 triliun serta Obligasi I/2014-2015 fase III sebesar Rp 451 miliar dan Obligasi I/2014-2015 fase IV sebesar Rp 99 miliar yang akan jatuh tempo masing-masing pada 30 September 2019, 19 Desember 2019, dan 25 Maret 2020 akan berkurang.

 

ARNA: Telah merampungkan satu pabrik di Ogan Ilir, Sumatra Selatan pada awal Juli tahun ini yang bertujuannya untuk memperkuat ekspansi keramik Arwana ke pasar Sumatra. Edy Suyanto, Direktur ARNA mengatakan pabrik yang bernama plant 4B tersebut menambah kapasitas produksi perusahaan sebanyak 4,3 juta meter persegi per tahun. “Menjadikan total kapasitas produksi kami sekitar 62 juta meter persegi per tahun,” sebutnya kepada Kontan.co.id, Selasa (1/10). Awalnya pabrik di kawasan Ogan Ilir tersebut telah memiliki beberapa lini produksi yang beroperasi sejak September 2013 dan berkapasitas produksi 8 juta meter persegi keramik per tahun.

Tuesday
01/10/2019

CITA: Menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Senin (30/9). Dalam rapat itu menyetui rencana aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue. Selanjutnya perusahaan berencana mengajukan pernyataan pendaftaran kepada OJK usai semua persiapan dokumentasi selesai. Rencananya emiten berkode saham CITA ini bakal menerbitkan sebanyak-banyaknya 648.218.250 lembar saham baru.

 

KRAS: Bersama anak perusahaannya melakukan Perjanjian Addendum dan Pernyataan Kembali untuk Tujuan Restrukturisasi antara PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan Anak Perusahaan dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank ICBC Indonesia, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank), PT Bank Central Asia Tbk. di Gedung Krakatau Steel Jakarta. Adapun beberapa anak perusahaan yang terlibat tersebut diantaranya PT Krakatau Wajatama, PT meratus Jaya Iron & Steel, PT KHI Pipe Industries, dan PT Krakatau Engineering. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Silmy Karim mengatakan dengan perjanjian ini Perseroan akan mendapatkan relaksasi pembayaran hutang sehingga beban keuangan menjadi berkurang dan tenor atau jangka waktu pelunasan pinjaman jadi lebih panjang.

 

BNGA: Meraih laba bersih konsolidasi (unaudited) sebesar Rp1,98 triliun pada semester I-2019, naik sebesar 11,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian tersebut menghasilkan laba per saham (earnings per share) Rp 79,27. Pertumbuhan laba bersih tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) yang naik sebesar 5,5% menjadi Rp 6,32 triliun, serta penurunan pada biaya pencadangan sebesar 2,0% year on year (yoy).

 

APLN: Moody’s menetapkan peringkat korporasi B2 pada PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), termasuk juga surat utang jangka panjang yang diterbitkan olah perusahaan properti tersebut. “Semua outlook di peringkat tersebut adalah negatif,” tulis Vice President dan Senior Credit Officer Jacintha Poh, Senin (30/9). Pada 26 September 2019, APLN mengumumkan telah menerima uang sebesar Rp 800 miliar dari pemegang saham pengendali Trihatma Kusuma Haliman. Dana tersebut nantinya akan dikonversi ke ekuitas setelah mendapatkan persetujuan dalam RUPSLB November 2019.

 

HRTA: Mencatatkan pendapatan hingga 80% hingga kuartal III 2019 atau setara kurang lebih Rp 2,4 triliun.  Adapun hingga akhir tahun Perseroan menargetkan pendapatan sebesar Rp 3 triliun. Pada kesempatan sebelumnya, Direktur Keuangan HRTA, Deny Ong menjelaskan kenaikan harga emas mengerek harga jual produk HRTA mengikuti tren harga emas. Sekadar informasi, hingga akhir tahun 2019 Perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih 12% yoy, pada tahun sebelumnya HRTA mencatat Rp 123,4 miliar. Hingga semester I 2019 laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai  Rp 86,37 miliar.

 

SSIA: Telah menyerap setengah belanja modal hingga saat ini. Adapun keperluan modal belanja perseroan diperuntukan untuk menambah landbank. The Jok Tung, Direktur Surya Semesta Internusa menyebutkan pihaknya telah serap belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar. “Digunakan untuk akuisisi lahan,” ujarnya di Bursa Efek Indonesia, Senin (30/9).